Panic Button On Hand Sebagai Reformasi Birokrasi di Malang

Aplikasi Panic Botton Polres Malang Kota.

Reformasi birokrasi merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai good governance dan melakukan pembaharuan dan perubahan mendasar terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan terutama menyangkut aspek-aspek kelembagaan (organisasi), ketatalaksanaan dan sumber daya manusia aparatur.

Melalui reformasi birokrasi, dilakukan penataan terhadap sistem penyelenggaraan pemerintah yang efektif dan efisien. Reformasi birokrasi menjadi tulang punggung dalam perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bacaan Lainnya

Tujuan dari reformasi birokrasi adalah terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik dengan aparatur berintegritas tinggi, produktif, dan melayani secara prima dalam rangka meningkatkan kepercayaan publik.

 

Gambaran umum terkait pelaksanaan reformasi birokrasi pada Kota Malang ini dapat dilihat dari upaya pemerintah daerah yang telah melakukan upaya perubahan guna mewujudkan pemerintahan daerah dalam pelayanan yang berkualitas, dan meningkatkan kapasitas dan akuntabilitas kinerja.

Dalam mewujudkan reformasi birokrasi, pemerintah Kota Malang memberikan pelayanan publik yang baik dan berkualitas untuk melakukan percepatan reformasi birokrasi dengan mendorong Kementerian, Lembaga, dan Pemerintah Daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Kepolisian Resort Malang Kota sebagai salah satu kelembagaan yang berfungsi memberikan pelayanan publik telah memiliki aplikasi khusus dalam meningkatkan pelayanan penanganan laporan kriminalitas.

Aplikasi tersebut bernama Panic Button On Hand yang digunakan sebagai bentuk sarana panggilan bantuan polisi secara cepat melalui smartphone.

 

Panic Button On Hand (PBOH) merupakan aplikasi tombol darurat yang dapat digunakan saat seseorang dalam keadaan bahaya atau sedang melihat tindak kriminalitas di lingkungannya.

Aplikasi ini memudahkan masyarakat dalam memberikan laporan tanpa perlu datang ke kantor polisi terdekat dan memudahkan pihak kepolisian dalam menangani tindak kriminalitas karena mengetahui dengan jelas lokasi kejahatan.

Aplikasi ini juga dapat dimanfaatkan oleh warga luar Kota Malang, namun dengan ketentuan harus berada di area Kota Malang.

Untuk mewujudkan inovasi layanan Panic Button On Hand, inovasi harus memiliki kerakteristik yang menunjukkan bahwa inovasi yang ada merupakan sebuah produk baru yang digunakan untuk mempermudah pelayanan publik, diantaranya yaitu;

(1) Keuntungan relatif, keuntungan yang diberikan dengan adanya inovasi pelayanan Panic Button on Hand (PBOH) ini adalah memudahkan masyarakat dalam memberikan laporan kepada pihak kepolisian Malang Kota.

(2) Kesesuaian, inovasi pelayanan Panic Button on Hand (PBOH) Polres Malang Kota memiliki kesesuaian dengan tata cara penanganan laporan yang sebelumnya dan memiliki kesesuaian dengan prosedur yang berlaku.

(3) Kerumitan, kendala dari inovasi pelayanan Panic Button on Hand (PBOH) tersebut terjadi pada sistem pelaporan yang bermasalah saat digunakan dan memiliki respon yang cenderung lama, sedangkan dalam kasus kejahatan diperlukan penanganan dari pihak kepolisian secepatnya.

(4) Kemungkinan coba, inovasi pelayanan Panic Button on Hand (PBOH) juga telah melewati proses kajian untuk mengetahui nilai kemanfaatan, keamanan, kesiapan infrastruktur, dan kesiapan SDM, yang dilakukan untuk mengetahui tingkat kesiapan pelayanan Panic Button on Hand (PBOH) sebelum diluncurkan.

(5) Kemudahan diamati, proses dan implementasi inovasi pelayanan Panic Button on Hand (PBOH) hanya dapat dinilai dan diamati oleh pihak-pihak yang menggunakan dan terlibat langsung, seperti petugas operator dan petugas yang menangani, serta orang yang melapor melalui pelayanan Panic Button on Hand (PBOH).

Sedangkan masyarakat umum, terutama yang tidak menggunakan atau mengunduh aplikasi pelayanan Panic Button on Hand (PBOH) tidak dapat memberikan penilaian karena dapat diamati secara langsung proses penanganan yang diberikan.

 

Selain itu, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pelaksanaan pada penerapan inovasi pelayanan Panic Button on Hand (PBOH), diantaranya sebagai berikut;

(1) Etimasi yang tidak tepat terhadap inovasi, dalam inovasi pelayanan Panic Button on Hand (PBOH) ini memiliki tujuan dan harapan yang belum tercapai sepenuhnya.

Faktor penghambat ini muncul karena kurang tepatnya estimasi terhadap kondisi masyarakat, yaitu tidak banyaknya penduduk Kota Malang yang memiliki smartphone, sehingga tidak semua dapat mengakses aplikasi pelayanan Panic Button on Hand (PBOH), oleh karena itu harapan yang diinginkan belum dapat terpenuhi secara keseluruhan.

(2) Inovasi yang tidak berkembang, untuk inovasi pelayanan ini telah menggunakan teknologi dalam kesiapan sarana dan prasarana yang baik. Segala proses mulai dari awal pelaporan, sampai penanganan di lapangan tidak lepas dari penggunaan teknologi.

Namun, teknologi yang digunakan masih memiliki banyak kendala dan kurang berfungsi dengan baik, sehingga akan memberikan nilai kemanfaatan yang kurang maksimal dirasakan oleh masyarakat, misalnya masyarakat yang tidak tertarik untuk mengunduh aplikasi tersebut.

 

Terkait dengan mewujudkan reformasi birokrasi dalam inovasi pelayanan Panic Button on Hand (PBOH) yang diberikan oleh Kepolisian Resort Malang Kota tersebut memiliki keuntungan pelaporan dan penanganan laporan kriminalitas yang lebih mudah dan simple dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.

Selain terdapat keuntungan, aplikasi tersebut memiliki kekurangan, yaitu adanya kendala dalam penerapannya karena menggunakan teknologi yang memiliki tingkat kerumitan lebih tinggi dalam sistem aplikasi yang digunakan masyarakat, seperti proses loading yang lama dan kurangnya sosialisasi kepada masyarakat. (*)

 

*Penulis: Mazroul Khoiroh (Mahasiswa Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo)



banner 468x60

Pos terkait

banner 468x60