Peternak Ayam Petelur di Lumajang Menjerit, Harga Pakan Naik Gara-Gara Jagung Langka

Salahsatu peternak ayam petelur di Lumajang.

Lumajang, Jatim Hari Ini – Harga pakan ayam petelur di Lumajang sejak tiga bulan terakhir ini terus merangkak naik. Kini harganya mencapai Rp. 6.600 per kilogram atau Rp. 660.000 per kwintal.

Kenaikan harga tidak sebanding dengan harga jual telur di pasaran dimana per kilogram hanya dihargai Rp. 19.000.

Bacaan Lainnya

Kondisi ini membuat sejumlah peternak ayam petelur gelisah meminta pemerintah mencarikan solusi supaya peternak ayam petelur bisa tetap bertahan.

Holik menuturkan kenaikan harga pakan ayam ini terjadi sejak 3 bulan terakhir ini. Sedang harga telur masih tetap diangka antara Rp. 19.000 hingga Rp. 20.000.

“Misalkan harga pakan naik dan harga telur ikut naik, ini imbang. Yang terjadi saat ini harga pakan naik harga telur tidak berubah,” ucapnya, Senin (5/7/2021).

Sebagai peternak ayam petelur kata Holik tentu berharap mendapat untung lebih dari sisa pembelian pakan. Namun kenyataannya sejak harga pakan naik penghasilan terus menurun.

“Bulan kemarin jangan tanya untung, saya sudah minus Mas,” jelasnya.

Terpisah, peternak ayam lainnya, MJ Choir menambahkan bahwa harga pakan ayam petelur itu naik salah satunya disebabkan bahan untuk campuran pakan berupa jagung itu di Lumajang langka. Sehingga untuk memenuhi pakan ayam para penyedia pakan ayam petelur membeli jagung dari luar daerah.

Ia berharap kondisi ini mendapat perhatian serius dari pemerintah sehingga kedepan Lumajang tidak langka akan jagung dan segera dicarikan solusi agar peternak ayam petelur khusus di Lumajang bisa tetap bertahan.

“Misalkan harga pakan naik, harga telur naik masih ada untung. Sekarang ini harga pakan naik harga telur tidak dan jangan tanya untung. Kalau sudah tidak untung masak mau diteruskan Mas,” tambahnya.

Sementara, Dinas Pertanian Lumajang melalui Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan  drh. Rofiah mengatakan, bahwa harga pakan ayam petelur sejak satu bulan yg lalu memang ada kenaikan sekitar Rp. 500 per kilogram.

“Itu disebabkan harga bahan baku yang impor mengalami kenaikan,” katanya saat dikonfirmasi jatimhariini.com.

Sementara itu, terkait kelangkaan jagung menurut Informasi dari kepala bidang tanaman pangan, untuk jagung sendiri di sebabkan belum ada panen raya.

“Dikarenakan masih ada hujan sehingga petani yang mestinya waktu menanam jagung masih menanam padi lagi,” terangnya.

Untuk pakan pabrikan sendiri, pihaknya tidak bisa mengendalikan harga.

“Salah satu alternatif menyiasati kenaikan harga pakan peternak bisa menyusun ransum pakan sendiri dengan mengurangi atau tdk menggunakan bahan baku impor dan penggunaan jagung bisa disubtitusi dengan bekatul,”pungkasnya. (ted/cho)



banner 468x60

Pos terkait

banner 468x60